Jakarta, 3 Juni 2026 – Dunia fesyen kembali menunjukkan bagaimana tren dapat bergerak ke arah yang tidak terduga. Di tengah dominasi gaya modern, pakaian bernuansa futuristis, dan pengaruh media sosial yang terus berkembang, generasi Z justru mulai melirik item fesyen yang selama ini identik dengan gaya berpakaian para ayah atau pria dewasa dari generasi sebelumnya. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah sweter klasik dengan potongan sederhana, warna-warna netral, dan desain yang cenderung konservatif. Fenomena ini melahirkan tren yang sering disebut sebagai “bapak-bapak core”, yaitu gaya berpakaian yang mengambil inspirasi dari penampilan pria dewasa yang mengutamakan kenyamanan dibanding mengikuti tren sesaat. Apa yang dahulu dianggap kuno kini justru tampil sebagai simbol gaya yang unik, santai, dan memiliki karakter tersendiri di kalangan anak muda.
Perubahan selera berpakaian di kalangan generasi muda tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, industri fesyen global menunjukkan kecenderungan kuat untuk menghidupkan kembali berbagai gaya dari dekade sebelumnya. Tren retro, vintage, hingga pakaian dengan siluet longgar kembali populer karena dianggap menawarkan identitas yang berbeda di tengah arus mode yang semakin cepat berubah. Sweter klasik yang identik dengan warna cokelat, krem, abu-abu, hijau tua, atau motif rajut sederhana mulai sering terlihat dalam berbagai unggahan media sosial, sesi pemotretan, hingga aktivitas sehari-hari anak muda di berbagai kota. Banyak generasi Z menganggap pakaian semacam ini memberikan kesan autentik, nyaman, dan tidak berusaha tampil berlebihan, sesuatu yang justru semakin dihargai dalam budaya fesyen modern.
Para pengamat mode menilai bahwa popularitas sweter ala bapak-bapak juga berkaitan dengan munculnya tren fesyen yang lebih berorientasi pada kenyamanan dan keberlanjutan. Setelah bertahun-tahun industri mode didominasi oleh tren yang berubah sangat cepat, sebagian konsumen mulai mencari pakaian yang lebih tahan lama dan mudah dipadukan dengan berbagai gaya. Sweter klasik memenuhi kebutuhan tersebut karena desainnya relatif tidak lekang oleh waktu dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Selain itu, banyak anak muda yang mulai gemar berburu pakaian bekas atau vintage, di mana sweter model lama menjadi salah satu item yang paling mudah ditemukan. Kombinasi antara nilai nostalgia, keunikan desain, dan kesadaran terhadap konsumsi fesyen yang lebih bijak turut mendorong meningkatnya popularitas gaya ini.
Media sosial memainkan peran besar dalam mempercepat penyebaran tren tersebut. Berbagai kreator konten fesyen menunjukkan cara memadukan sweter klasik dengan celana longgar, rok, sepatu kasual, maupun aksesori modern sehingga menghasilkan tampilan yang tetap relevan dengan selera masa kini. Menariknya, banyak anak muda yang tidak mengenakan sweter tersebut secara ironis atau sekadar mengikuti tren, melainkan benar-benar mengapresiasi estetika yang ditawarkan. Bagi sebagian generasi Z, pakaian yang sederhana justru memberikan ruang lebih besar untuk mengekspresikan kepribadian tanpa harus bergantung pada logo besar atau desain yang terlalu mencolok. Fenomena ini menunjukkan bahwa definisi gaya modis terus berubah dan tidak selalu harus mengikuti standar kemewahan atau kemutakhiran tertentu.
Dari sudut pandang budaya, tren “bapak-bapak core” juga mencerminkan bagaimana generasi muda membangun hubungan baru dengan masa lalu. Banyak elemen yang dahulu dianggap biasa atau bahkan kurang menarik kini dilihat kembali melalui perspektif yang berbeda. Gaya berpakaian yang identik dengan generasi orang tua dianggap memiliki nilai keaslian yang sulit ditemukan dalam tren yang terlalu dipengaruhi algoritma media sosial dan pemasaran digital. Dengan mengenakan sweter klasik atau pakaian bernuansa vintage, sebagian anak muda merasa dapat menciptakan identitas yang lebih personal dan tidak sepenuhnya mengikuti arus utama. Hal ini menunjukkan bahwa fesyen bukan hanya soal penampilan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan nilai, preferensi, dan cara pandang terhadap budaya yang terus berkembang.
Kalangan pelaku industri mode melihat tren ini sebagai bukti bahwa pasar fesyen semakin beragam dan sulit diprediksi. Banyak merek mulai merespons dengan menghadirkan koleksi yang menggabungkan elemen klasik dan modern sekaligus. Desain rajut sederhana, potongan longgar, warna-warna hangat, serta detail yang terinspirasi dari pakaian generasi sebelumnya kini kembali muncul dalam berbagai koleksi terbaru. Bahkan beberapa rumah mode internasional mulai mengeksplorasi estetika yang serupa untuk menarik perhatian konsumen muda yang mencari sesuatu yang berbeda dari tren mainstream. Fenomena ini memperlihatkan bahwa inspirasi fesyen dapat datang dari mana saja, termasuk dari gaya berpakaian yang sebelumnya dianggap terlalu sederhana untuk menjadi pusat perhatian.
Popularitas sweter ala bapak-bapak di kalangan generasi Z pada akhirnya menjadi contoh menarik tentang bagaimana tren fesyen terus berevolusi. Apa yang dahulu dianggap kuno kini dapat kembali hadir sebagai simbol gaya yang segar dan relevan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa dunia mode tidak selalu bergerak ke arah yang lebih modern atau futuristis, tetapi juga sering menoleh ke masa lalu untuk menemukan inspirasi baru. Dengan menggabungkan kenyamanan, nilai nostalgia, dan kebebasan berekspresi, tren ini berhasil menarik perhatian banyak anak muda dan menjadi bagian dari dinamika fesyen yang terus berubah. Dalam beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin gaya-gaya sederhana lainnya yang selama ini identik dengan generasi sebelumnya akan kembali mendapatkan tempat di lemari pakaian generasi muda.





