Jakarta, 20 Oktober 2026 – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.539 triliun hingga September 2026. Capaian tersebut turut mendorong penyerapan tenaga kerja sebanyak 2,19 juta orang sepanjang periode Januari hingga September. Angka ini menunjukkan besarnya kontribusi penanaman modal dalam mendukung kegiatan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat. Pemerintah terus berupaya menjaga pertumbuhan investasi agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan nasional.
Realisasi investasi selama sembilan bulan pertama tahun 2026 menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan aktivitas dunia usaha. Masuknya investasi memungkinkan perusahaan memperluas kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, serta mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pendukung. Pemerintah memandang investasi sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional yang perlu terus diperkuat. Namun, kualitas investasi juga menjadi perhatian agar manfaatnya tidak hanya tercermin dari besarnya nilai modal yang masuk.
Rosan menyoroti penyerapan 2,19 juta tenaga kerja sebagai bagian penting dari dampak realisasi investasi terhadap masyarakat. Pembukaan lapangan pekerjaan dapat membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperluas kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif. Investasi yang berkembang di berbagai sektor juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan yang beragam. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan industri. Pemerintah perlu memastikan peningkatan investasi berjalan seiring dengan pengembangan keterampilan dan kualitas tenaga kerja nasional.
Penguatan iklim investasi menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha domestik maupun internasional. Kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan ketersediaan infrastruktur merupakan faktor penting yang memengaruhi keputusan investor. Pemerintah terus menghadapi tantangan untuk menciptakan lingkungan usaha yang kompetitif di tengah persaingan investasi antarnegara. Penyederhanaan prosedur administrasi serta peningkatan koordinasi antarlembaga dapat membantu mempercepat pelaksanaan proyek investasi. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, kegiatan penanaman modal diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan.
Selain meningkatkan nilai investasi, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pemerataan penanaman modal di berbagai wilayah Indonesia. Investasi yang terkonsentrasi pada kawasan tertentu berpotensi menimbulkan kesenjangan perkembangan ekonomi antardaerah. Karena itu, pengembangan kawasan industri dan pemanfaatan potensi ekonomi lokal menjadi bagian penting dalam mendorong pemerataan pembangunan. Berbagai daerah memiliki peluang menarik investasi melalui sektor pertanian, pertambangan, pengolahan, pariwisata, dan jasa. Dukungan infrastruktur serta kesiapan tenaga kerja menjadi faktor yang diperlukan agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pengembangan industri hilirisasi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah investasi. Melalui hilirisasi, sumber daya alam diharapkan dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan. Kegiatan pengolahan tersebut berpotensi memperluas rantai pasok industri sekaligus menciptakan kesempatan kerja baru. Namun, pengembangan industri membutuhkan dukungan teknologi, energi, infrastruktur, dan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Pengawasan terhadap dampak lingkungan dan penerapan standar keselamatan kerja juga perlu menjadi bagian dari pelaksanaan investasi.
Capaian investasi hingga September 2026 menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menentukan langkah kebijakan pada akhir tahun. Perubahan kondisi ekonomi global, perkembangan perdagangan internasional, dan dinamika pasar keuangan dapat memengaruhi keputusan penanaman modal. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas kebijakan serta meningkatkan komunikasi dengan dunia usaha. Penguatan pelayanan investasi juga diperlukan untuk memastikan proyek yang telah direncanakan dapat direalisasikan secara efektif. Evaluasi secara berkala menjadi penting agar hambatan pelaksanaan investasi dapat diidentifikasi dan ditangani dengan tepat.
Realisasi investasi sebesar Rp1.539 triliun dengan penyerapan 2,19 juta tenaga kerja hingga September 2026 menunjukkan keterkaitan antara pertumbuhan penanaman modal dan penciptaan kesempatan kerja. Pemerintah diharapkan terus menjaga momentum tersebut melalui peningkatan kualitas infrastruktur, kepastian regulasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Selain mengejar pertumbuhan nilai investasi, perhatian terhadap kualitas pekerjaan dan pemerataan manfaat ekonomi juga perlu menjadi prioritas. Kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam mewujudkan investasi yang produktif. Melalui pengelolaan yang terarah, investasi diharapkan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.





