Jakarta, 2 September 2026 – Bank Indonesia (BI) menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan total mencapai 32,5 ton untuk masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut dikirim secara bertahap untuk menjawab kebutuhan warga di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Nagekeo. Pengiriman logistik menjadi bagian dari dukungan terhadap penanganan kondisi darurat sekaligus proses pemulihan masyarakat setelah bencana. Bantuan diharapkan dapat meringankan beban warga yang masih menghadapi keterbatasan kebutuhan sehari-hari. Distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Penyaluran bantuan tersebut dilakukan melalui jalur udara dengan melibatkan koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Udara. Proses pengiriman dibagi menjadi tiga tahap agar bantuan dapat disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan di lapangan. Tahap pertama dikirim pada 24 Agustus 2026 dengan berat 8,5 ton. Bantuan pada tahap awal difokuskan pada kebutuhan mendesak setelah bencana, seperti obat-obatan, air mineral, makanan siap saji, serta perlengkapan higienitas.
Pengiriman tahap kedua dilakukan pada 27 Agustus 2026 dengan jumlah bantuan mencapai 9,7 ton. Logistik yang dikirim pada tahap ini antara lain berupa bahan pangan pokok dan air mineral untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak. Selanjutnya, pengiriman tahap ketiga dilakukan pada 31 Agustus 2026 dengan total 14,3 ton bantuan. Tahap terakhir tersebut membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendukung kondisi darurat, mulai dari tenda, tempat tidur lapangan atau velbed, genset, tambahan obat-obatan hingga makanan siap saji.
Pola distribusi bertahap tersebut dilakukan karena kebutuhan masyarakat dapat berubah seiring dengan perkembangan penanganan bencana. Pada fase awal, kebutuhan utama biasanya berkaitan dengan penyelamatan, makanan, air, obat-obatan dan perlengkapan kebersihan. Setelah kondisi mulai tertangani, kebutuhan kemudian berkembang pada penyediaan tempat berlindung, peralatan pendukung dan pemenuhan kebutuhan dasar dalam periode yang lebih panjang. Karena itu, pengiriman bantuan tidak dilakukan sekaligus, melainkan mengikuti dinamika kondisi darurat di wilayah terdampak.
Selain mengirimkan bantuan logistik, BI juga menyiapkan dukungan untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak. Ketersediaan uang Rupiah menjadi salah satu perhatian agar aktivitas transaksi dan kebutuhan masyarakat tetap dapat berjalan. Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT memastikan kebutuhan likuiditas perbankan di daerah terdampak tetap terpenuhi, termasuk dengan mengoptimalkan kas titipan pada perbankan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga layanan ekonomi tetap berfungsi di tengah situasi pascabencana.
Jangkauan bantuan juga diperluas ke sejumlah wilayah yang memiliki tantangan akses. BI bersinergi dengan TNI Angkatan Laut melalui program Ekspedisi Rupiah Berdaulat untuk mendukung ketersediaan uang layak edar di sejumlah daerah yang sulit dijangkau. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kupang, Pulau Riung, Pulau Palue, Pulau Pamana, Pulau Waiwerang, dan Pulau Lamalera. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan distribusi barang kebutuhan, tetapi juga menjaga agar aktivitas masyarakat dan sistem perekonomian tetap dapat berjalan.
Di sisi lain, BI juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi tekanan harga setelah bencana. Gangguan terhadap jalur distribusi dan pasokan dapat memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas pangan strategis di daerah terdampak. Kondisi tersebut berpotensi mendorong perubahan harga apabila tidak segera diantisipasi. Karena itu, koordinasi diarahkan untuk menjaga ketahanan pasokan sekaligus mempertahankan stabilitas harga sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan.
Dukungan BI terhadap masyarakat NTT tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Lembaga tersebut juga menyatakan akan melanjutkan dukungan melalui program pemulihan pascabencana dan pemberdayaan masyarakat. Langkah tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga memiliki ruang untuk kembali membangun aktivitas sosial dan ekonomi setelah kondisi berangsur pulih. Pemulihan jangka menengah dan panjang menjadi penting karena dampak bencana dapat dirasakan jauh setelah fase darurat berakhir.
Sinergi antara BI, BNPB, TNI, pemerintah daerah dan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat bergerak menuju masyarakat yang membutuhkan. Distribusi melalui jalur udara, laut maupun darat memungkinkan bantuan menjangkau wilayah dengan kondisi akses yang berbeda-beda. Kiriman 32,5 ton bantuan tersebut pun menjadi salah satu bentuk dukungan bagi warga NTT yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana. Di tengah proses pemulihan, bantuan logistik, dukungan ekonomi dan kerja sama lintas lembaga diharapkan dapat mempercepat kembalinya kehidupan masyarakat menuju kondisi yang lebih normal.






