Padang, 4 September 2026 – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berkolaborasi dengan Yayasan Ruangguru dan ASEAN Foundation memberikan pelatihan literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kepada guru dan siswa sebagai bagian dari Program AI Ready ASEAN. Pelatihan tersebut digelar di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) dan dibuka Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah pada Kamis, 3 September 2026. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapan tenaga pendidik dan pelajar menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin luas digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah daerah menilai kemampuan memahami AI menjadi keterampilan penting bagi dunia pendidikan karena teknologi tersebut dapat membantu proses belajar, meningkatkan efisiensi, dan membuka akses terhadap berbagai sumber pengetahuan. Namun, penggunaan AI tetap harus disertai kemampuan berpikir kritis agar guru maupun siswa tidak menerima seluruh informasi yang dihasilkan teknologi secara otomatis. Penguatan literasi AI karena itu ditempatkan bersama pendidikan karakter, etika, dan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan.
Mahyeldi mengatakan perkembangan AI menawarkan banyak kemudahan dan dapat mempercepat berbagai pekerjaan, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan. Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu menyiapkan materi, mencari referensi, mengembangkan metode pembelajaran, serta mengurangi sebagian pekerjaan administratif yang membutuhkan banyak waktu. Siswa juga memiliki kesempatan memanfaatkan AI sebagai alat untuk memperluas pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Meski demikian, teknologi tersebut tidak memiliki karakter dan moral seperti manusia sehingga pengguna tetap harus menentukan bagaimana AI digunakan. Kemudahan mendapatkan jawaban dalam waktu singkat tidak boleh membuat siswa kehilangan kebiasaan membaca, menganalisis, dan mencari penjelasan secara mandiri. Pemerintah ingin teknologi menjadi alat yang dikendalikan manusia dan bukan sebaliknya.
Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam pelatihan tersebut. Mahyeldi meminta siswa tidak hanya memiliki kemampuan mengakses informasi, tetapi juga mampu mempertanyakan kebenaran dan konteks informasi yang mereka terima. Jawaban yang dihasilkan sistem AI dapat memiliki keterbatasan karena bergantung pada data, model, dan konteks pertanyaan yang diberikan pengguna. Karena itu, informasi penting tetap perlu dibandingkan dengan sumber lain dan diperiksa sebelum digunakan untuk tugas maupun pengambilan keputusan. Kemampuan bertanya, memeriksa, membandingkan, dan menyusun kesimpulan menjadi keterampilan yang semakin penting pada era AI. Sekolah diharapkan dapat membentuk kebiasaan tersebut sehingga siswa tidak berkembang menjadi pengguna teknologi yang pasif.
Guru juga menghadapi tuntutan untuk terus meningkatkan kompetensi seiring perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Peran pendidik tidak menjadi kurang penting karena hadirnya AI, tetapi justru berkembang menjadi pembimbing yang membantu siswa memahami bagaimana teknologi digunakan secara tepat. Guru perlu mengetahui manfaat sekaligus keterbatasan AI agar dapat memberikan arahan ketika siswa menggunakannya dalam proses pembelajaran. Pemahaman tersebut juga dibutuhkan untuk membedakan penggunaan teknologi sebagai alat bantu dengan praktik yang dapat mengurangi integritas akademik. Sekolah dapat mengembangkan aturan penggunaan AI yang memberikan ruang bagi inovasi tanpa menghilangkan tanggung jawab siswa menyelesaikan proses belajar. Dengan kemampuan tersebut, guru dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pembelajaran tanpa kehilangan peran utama dalam pembentukan karakter dan kemampuan peserta didik.
Program AI Ready ASEAN yang hadir di Sumatera Barat merupakan bagian dari inisiatif peningkatan kemampuan masyarakat Asia Tenggara menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. Program tersebut mendapat dukungan Google.org dan telah menjangkau jutaan penerima manfaat di kawasan ASEAN. Di Indonesia, jumlah penerima manfaat program telah mencapai lebih dari 5,4 juta orang, sementara secara keseluruhan di 10 negara ASEAN jumlahnya telah melampaui 8,6 juta penerima manfaat. Cakupan yang besar memperlihatkan kebutuhan terhadap literasi AI tidak hanya muncul di Indonesia, tetapi menjadi perhatian berbagai negara di kawasan. Perubahan teknologi yang cepat membuat kemampuan digital semakin berkaitan dengan kesiapan sumber daya manusia menghadapi pendidikan dan dunia kerja masa depan. Sumatera Barat melalui program tersebut menjadi bagian dari penguatan kompetensi digital dalam skala regional.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan teknologi dinilai dapat mempercepat penyebaran keterampilan AI kepada sekolah. Pemerintah memiliki jaringan pendidikan dan kemampuan menyusun kebijakan, sedangkan mitra dapat menyediakan materi, metode pelatihan, serta pengalaman dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi. Kerja sama tersebut memungkinkan pelatihan menjangkau tenaga pendidik yang kemudian dapat meneruskan pengetahuan kepada siswa di sekolah masing-masing. Model seperti ini dapat menghasilkan dampak lebih luas dibandingkan apabila pelatihan hanya diberikan kepada kelompok peserta dalam jumlah terbatas. Namun keberlanjutan tetap menjadi faktor penting karena kemampuan menggunakan AI tidak dapat dibangun hanya melalui satu kali kegiatan. Pendampingan dan pembaruan materi dibutuhkan mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Sumatera Barat sebelumnya juga telah memiliki sejumlah kegiatan pendidikan digital bersama Ruangguru di tingkat kabupaten dan kota. Di Kota Padang, misalnya, pelatihan literasi AI pernah diberikan kepada ratusan kepala sekolah PAUD, SD, dan SMP sebagai bagian dari penguatan kemampuan pendidikan menghadapi transformasi digital. Program pembelajaran coding juga telah melibatkan siswa tingkat SD dan SMP untuk memperkenalkan keterampilan teknologi sejak dini. Pengalaman tersebut memberikan dasar untuk memperluas literasi digital dari kemampuan menggunakan perangkat menuju pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknologi AI. Pemerintah daerah melihat pendidikan digital perlu dimulai secara bertahap dan disesuaikan dengan usia serta kebutuhan peserta didik. Guru menjadi bagian penting karena merekalah yang nantinya menghubungkan teknologi dengan proses pembelajaran di kelas.
Penggunaan AI dalam pendidikan juga perlu memperhatikan aspek etika dan perlindungan data. Guru dan siswa perlu memahami bahwa informasi pribadi tidak seharusnya dimasukkan secara sembarangan ke dalam layanan digital yang belum diketahui mekanisme pengelolaan datanya. Pengguna juga harus mengenali risiko konten manipulatif, informasi keliru, pelanggaran hak cipta, maupun penggunaan AI untuk tindakan yang merugikan orang lain. Pendidikan literasi digital karena itu perlu bergerak melampaui keterampilan teknis mengoperasikan sebuah aplikasi. Siswa harus memahami konsekuensi dari tindakan mereka di ruang digital dan memiliki kemampuan mempertimbangkan aspek etika sebelum menggunakan teknologi. Pengetahuan tersebut akan semakin penting seiring AI menjadi bagian yang semakin umum dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat.
Mahyeldi turut menekankan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan bersama penguatan karakter, kejujuran, dan akhlak generasi muda. Kemampuan menggunakan AI secara canggih tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak disertai tanggung jawab terhadap cara teknologi tersebut digunakan. Siswa tetap harus memahami pentingnya proses belajar dan tidak menggunakan AI sebagai jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab akademik. Pada saat yang sama, sekolah tidak perlu melihat AI semata-mata sebagai ancaman karena teknologi tersebut memiliki potensi besar apabila digunakan secara tepat. Tantangannya adalah menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan kemudahan teknologi dan pengembangan kemampuan manusia. Pendidikan karakter menjadi fondasi agar kemajuan teknologi dapat diarahkan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Kolaborasi Pemprov Sumatera Barat, Yayasan Ruangguru, dan ASEAN Foundation melalui Program AI Ready ASEAN pada akhirnya diharapkan memperkuat kesiapan guru dan siswa menghadapi perubahan pendidikan pada era kecerdasan buatan. Pelatihan tidak hanya diarahkan agar peserta mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana memeriksa informasi, menjaga etika, serta mempertahankan kemampuan berpikir kritis. Pemerintah daerah melihat generasi muda sebagai kelompok yang akan menentukan kemampuan Sumatera Barat beradaptasi dengan perkembangan teknologi pada masa mendatang. Guru pada sisi lain memiliki peran strategis untuk memastikan penggunaan AI di lingkungan pendidikan tetap memberikan nilai tambah terhadap proses pembelajaran. Penguasaan teknologi dan penguatan karakter karena itu harus berkembang secara beriringan agar transformasi digital tidak menghilangkan nilai kemanusiaan. Dengan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan, Sumatera Barat berharap sekolah mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi kebutuhan masa depan.






