Quito, 29 Agustus 2026 – Mantan Presiden Ekuador Lenín Moreno dijatuhi hukuman lima tahun penjara setelah pengadilan menyatakan dirinya bersalah dalam kasus suap yang berkaitan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga air Coca Codo Sinclair. Putusan tersebut dibacakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, setelah proses persidangan yang mengungkap dugaan jaringan korupsi melibatkan sejumlah pejabat, anggota keluarga Moreno, serta pihak perusahaan asal China. Moreno yang kini berusia 73 tahun hadir saat pembacaan putusan dan menyatakan akan mengajukan banding atas hukuman tersebut.
Kasus tersebut berkaitan dengan proyek Coca Codo Sinclair, pembangkit listrik tenaga air terbesar di Ekuador yang dibangun oleh perusahaan China, Sinohydro. Proyek bernilai sekitar US$2 miliar itu mulai dibangun pada 2010 dan diserahkan kepada pemerintah Ekuador pada 2016. Dalam perkara yang disidangkan, jaksa menuduh adanya pembayaran suap sebagai imbalan untuk membantu perusahaan tersebut memperoleh kontrak pembangunan proyek. Dugaan transaksi korupsi itu menjadi bagian dari penyelidikan yang berkembang selama beberapa tahun terakhir.
Moreno dinyatakan terlibat langsung dalam skema tersebut ketika dirinya masih menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintahan Rafael Correa pada periode 2007 hingga 2013. Jaksa menyebut jaringan korupsi yang berkaitan dengan proyek tersebut beroperasi melalui transaksi di dalam maupun luar negeri. Dana diduga dialirkan menggunakan kontrak konsultasi yang bermasalah dan kemudian diteruskan kepada sejumlah penerima manfaat. Dalam penyelidikan, nilai suap yang diduga dibayarkan Sinohydro disebut mencapai sekitar US$76 juta atau setara empat persen dari nilai proyek.
Pengadilan tidak hanya menjatuhkan hukuman kepada Moreno. Istri dan putrinya serta dua saudara laki-lakinya dan seorang saudara iparnya juga dinyatakan bersalah sebagai pihak yang membantu dalam skema tersebut. Mereka masing-masing mendapat hukuman sekitar 30 bulan penjara. Para terdakwa juga diperintahkan mengembalikan tiga kali lipat nilai keuntungan yang diperoleh secara ilegal dalam jangka waktu 90 hari. Putusan tersebut menunjukkan bahwa pengadilan melihat perkara ini sebagai jaringan yang melibatkan lebih dari satu pihak dan memiliki aliran dana yang cukup luas.
Meski dijatuhi hukuman lima tahun, Moreno tidak akan menjalani masa pidana di dalam lembaga pemasyarakatan. Kondisi fisiknya yang mengalami kelumpuhan tubuh bagian bawah dan membuatnya tidak dapat berjalan menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan hukuman. Moreno akan menjalani hukuman melalui tahanan rumah. Keputusan tersebut tetap mempertahankan hukuman pidana yang dijatuhkan kepadanya, tetapi pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan keterbatasan fisik mantan kepala negara tersebut.
Moreno sendiri membantah pernah menerima uang dari perusahaan China yang menjadi pusat perkara. Setelah putusan dibacakan, ia tetap mempertahankan pernyataannya bahwa dirinya tidak pernah menerima pembayaran dari Sinohydro. Moreno juga mengaitkan kasus tersebut dengan perseteruannya dengan mantan Presiden Rafael Correa. Keduanya sebelumnya merupakan sekutu politik, tetapi hubungan mereka memburuk setelah Moreno menjabat sebagai presiden dan mengambil sejumlah kebijakan yang berbeda dari pemerintahan Correa.
Lenín Moreno menjabat sebagai Presiden Ekuador pada 2017 hingga 2021. Sebelum menduduki kursi kepresidenan, ia merupakan wakil presiden dalam pemerintahan Correa selama dua periode. Moreno kemudian maju sebagai calon presiden dengan dukungan gerakan politik yang dibangun di sekitar Correa dan berhasil memenangkan pemilihan. Namun, setelah menjadi presiden, hubungan Moreno dengan mantan mentornya tersebut berubah menjadi konflik politik yang terbuka. Perselisihan itu kemudian menjadi salah satu latar belakang yang kerap disebut Moreno ketika memberikan tanggapan mengenai perkara korupsi yang menjeratnya.
Kasus ini menjadi salah satu perkara korupsi terbesar yang melibatkan mantan pejabat tinggi Ekuador. Moreno tercatat sebagai mantan presiden ketiga negara tersebut yang dijatuhi hukuman dalam perkara korupsi. Sebelumnya, Rafael Correa telah divonis delapan tahun penjara dalam kasus suap yang berkaitan dengan perusahaan konstruksi Brasil Odebrecht. Mantan Presiden Jamil Mahuad juga pernah dijatuhi hukuman delapan tahun terkait penyalahgunaan dana publik. Sementara itu, mantan Presiden Abdalá Bucaram masih menghadapi proses hukum dalam perkara lain.
Proyek Coca Codo Sinclair sendiri juga memiliki persoalan tersendiri setelah selesai dibangun. Infrastruktur pembangkit tersebut menghadapi kritik terkait berbagai masalah teknis dan kerusakan yang muncul setelah mulai beroperasi. Kondisi itu membuat proyek yang sejak awal dianggap penting bagi sistem energi Ekuador terus menjadi sorotan. Dugaan korupsi dalam proses pembangunan kemudian menambah persoalan yang harus dihadapi pemerintah terkait proyek pembangkit listrik tersebut.
Dengan vonis terhadap Moreno, proses hukum dalam perkara suap Coca Codo Sinclair memasuki tahap penting. Putusan tersebut tidak hanya berdampak terhadap mantan presiden, tetapi juga terhadap anggota keluarganya dan sejumlah pihak lain yang dinyatakan terlibat. Moreno masih memiliki kesempatan untuk mengajukan banding terhadap keputusan pengadilan. Sementara itu, perkara tersebut menjadi perhatian publik karena memperlihatkan bagaimana dugaan korupsi dalam proyek infrastruktur besar dapat melibatkan jaringan yang bertahan selama bertahun-tahun dan menyeret pejabat tinggi hingga mantan kepala negara.







