Banjarbaru, 9 September 2026 – Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) terus melakukan pendinginan terhadap lahan gambut yang terbakar di kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru. Penanganan dilakukan secara intensif setelah pemantauan menemukan suhu di dalam lapisan gambut pada sejumlah titik dapat mencapai lebih dari 400 derajat Celsius. Kondisi tersebut menunjukkan bara masih tersimpan jauh di bawah permukaan meskipun api tidak selalu terlihat secara kasatmata. Petugas pun melakukan pemantauan sepanjang hari hingga malam untuk menemukan sumber panas yang berpotensi kembali memicu kebakaran. Upaya pendinginan menjadi penting karena karakter gambut memungkinkan api menjalar di bawah tanah dan muncul kembali apabila bara tidak dipadamkan sepenuhnya.
Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan pemantauan suhu tanah dilakukan dengan memanfaatkan drone termal. Peralatan tersebut memungkinkan petugas mendeteksi titik panas dan bara tersembunyi yang sulit ditemukan hanya melalui pengamatan dari permukaan. Setelah lokasi sumber panas diketahui, tim di lapangan dapat mengarahkan proses pendinginan secara lebih tepat ke titik yang membutuhkan penanganan. Metode ini dinilai lebih efektif dibandingkan penyiraman secara luas tanpa mengetahui posisi bara di dalam lapisan gambut. Pemanfaatan teknologi juga membantu personel mengawasi perkembangan suhu setelah proses pemadaman dilakukan.
Setelah titik panas teridentifikasi, petugas menggunakan cairan surfaktan hasil inovasi Bidang Laboratorium Forensik Polda Kalsel yang disalurkan langsung ke dalam tanah. Cairan tersebut dimasukkan melalui pipa hingga kedalaman sekitar dua meter untuk mencapai bara yang masih menyala di bawah permukaan gambut. Sejumlah sumber api bawah tanah dilaporkan berhasil dipadamkan setelah metode tersebut diterapkan, sementara suhu tanah secara bertahap kembali ke kondisi normal sekitar 25 hingga 30 derajat Celsius. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi khusus menghadapi kebakaran gambut yang tidak cukup ditangani dengan penyiraman permukaan. Petugas berupaya memastikan proses pendinginan berlangsung hingga lapisan dalam agar potensi penyalaan kembali dapat ditekan.
Efektivitas metode suntik gambut sebelumnya juga terlihat dalam penanganan kebakaran di kawasan Pengayuan, Banjarbaru. Pada pengujian awal, drone termal mendeteksi suhu tanah mencapai sekitar 120 derajat Celsius sebelum cairan surfaktan diinjeksikan. Setelah penginjeksian dilakukan selama sekitar satu menit, suhu di dalam tanah turun hingga kisaran 30 derajat Celsius. Cairan yang digunakan berbahan dasar surfaktan nabati dan dirancang agar mampu meresap ke pori-pori gambut lebih cepat sehingga air dapat mencapai pusat bara. Hasil tersebut kemudian mendorong Polda Kalsel untuk memperluas penggunaan metode serupa pada titik-titik kebakaran lain yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Penanganan di sekitar Bandara Syamsudin Noor menjadi perhatian khusus karena dalam beberapa hari terakhir titik api baru masih bermunculan di kawasan Kelurahan Syamsudin Noor dan Kelurahan Guntung Payung. Petugas karena itu disiagakan selama 24 jam untuk mengantisipasi munculnya kembali api maupun asap dari bawah permukaan tanah. Keberadaan kebakaran di sekitar kawasan bandara juga membutuhkan respons cepat mengingat asap dapat memengaruhi jarak pandang dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Proses pendinginan tidak dihentikan hanya karena api di permukaan sudah tidak terlihat, sebab lapisan gambut dapat mempertahankan panas dalam waktu lama. Pemantauan suhu menjadi indikator utama untuk memastikan suatu titik benar-benar telah aman dari bara tersembunyi.
Selain menggunakan cairan surfaktan dan pipa suntik, Polda Kalsel menempatkan kolam bioflok portabel untuk mengatasi keterbatasan sumber air di dekat lokasi kebakaran. Kolam tersebut dapat dipindahkan mendekati titik api sehingga jarak antara sumber air dan lokasi pemadaman menjadi lebih pendek. Dalam operasi sebelumnya, kolam bioflok yang digunakan mempunyai kapasitas sekitar 12 ribu liter per unit dan menjadi bagian penting dari strategi pemadaman di kawasan gambut. Sistem portabel diperlukan karena kendaraan pemadam berukuran besar tidak selalu dapat menjangkau lokasi kebakaran, sementara panjang selang juga memiliki keterbatasan. Kombinasi kolam penampungan, pipa bawah tanah, surfaktan, dan pemantauan termal kemudian digunakan untuk meningkatkan efektivitas operasi lapangan.
Karakteristik kebakaran gambut memang menjadi tantangan utama bagi tim gabungan karena api dapat bergerak di bawah permukaan dan tetap menghasilkan asap meskipun bagian atas lahan terlihat telah padam. Kondisi semakin sulit ketika musim kemarau mengurangi ketersediaan air di sekitar lokasi. Polda Kalsel bersama TNI, BPBD, pemerintah daerah, relawan, serta unsur masyarakat karena itu mengembangkan pendekatan yang dapat menjangkau sumber api secara langsung. Sejumlah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat juga dilibatkan dalam kegiatan penanganan sekaligus pengembangan edukasi dan riset terkait kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan metode penanganan yang lebih efektif sekaligus memperkuat pencegahan kebakaran berulang.
Metode pendinginan menggunakan surfaktan juga telah diuji dengan hasil yang menunjukkan penurunan suhu dalam waktu relatif singkat. Dalam pengujian di Pengayuan, suhu gambut yang sebelumnya berada di atas 70 derajat Celsius dilaporkan turun menjadi sekitar 28 hingga 30 derajat Celsius dalam waktu sekitar 22 detik setelah cairan dimasukkan melalui metode suntik. Teknologi tersebut juga dinilai dapat menghemat penggunaan air lebih dari 50 persen, sehingga menjadi keuntungan penting ketika penanganan dilakukan pada musim kemarau. Tim Bidlabfor Polda Kalsel terus meningkatkan produksi konsentrat untuk memperluas cakupan penggunaannya pada lahan yang masih membutuhkan pendinginan. Pengembangan produksi massal juga disiapkan agar metode tersebut dapat digunakan secara lebih luas dalam operasi penanganan karhutla.
Polda Kalsel memastikan pendinginan akan terus dilakukan selama pemantauan masih menemukan titik panas di dalam lapisan gambut, terutama di kawasan strategis sekitar Bandara Syamsudin Noor. Personel lapangan akan memadukan pemantauan drone termal dengan penyuntikan cairan ke sumber bara serta penyediaan air melalui kolam portabel agar penanganan dapat dilakukan secara cepat. Pengawasan selama 24 jam juga diperlukan untuk mencegah titik yang sebelumnya telah dipadamkan kembali menyala akibat kondisi gambut yang masih kering. Pengalaman penanganan di Pengayuan dan sejumlah kawasan lain selanjutnya diharapkan menjadi dasar untuk menyempurnakan metode penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan. Dengan pendinginan menyeluruh hingga lapisan bawah tanah, risiko munculnya kembali api dan asap di sekitar kawasan terdampak diharapkan dapat terus ditekan.





