Jakarta, 6 September 2026 – Kementerian Pertanian terus memperkuat peran koperasi sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan posisi tawar peternak ayam di tengah dinamika harga dan rantai distribusi produk perunggasan. Penguatan tersebut dilakukan dengan mendorong kerja sama antarkoperasi agar peternak tidak hanya bergantung pada pedagang perantara dalam memasarkan hasil produksi. Salah satu langkah yang mulai dijalankan adalah distribusi ayam petelur afkir dari sentra produksi di Jawa Timur menuju wilayah yang memiliki kebutuhan pasar lebih besar. Melalui konsolidasi koperasi, volume produksi peternak dapat dihimpun sehingga mereka memiliki kemampuan lebih kuat dalam melakukan negosiasi harga maupun menentukan tujuan pemasaran. Pemerintah juga mendorong keterlibatan badan usaha pangan untuk membantu membangun jaringan distribusi yang lebih terstruktur. Pola tersebut diharapkan memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga nilai ekonomi yang diterima peternak.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Makmun mengatakan kerja sama antarkoperasi menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperkuat ekosistem usaha peternakan rakyat. Peternak selama ini menghadapi tantangan ketika harus menjual produk secara sendiri-sendiri karena volume yang terbatas membuat kemampuan mereka dalam menentukan harga relatif rendah. Koperasi dapat mengambil peran dengan mengonsolidasikan produksi anggota sebelum memasarkannya dalam jumlah yang lebih besar. Skala tersebut memberikan kesempatan bagi peternak untuk memperoleh akses langsung kepada pembeli yang membutuhkan pasokan secara rutin. Selain memperkuat posisi tawar, pola kolektif juga dapat membantu menjaga kontinuitas distribusi. Pemerintah berharap koperasi berkembang menjadi lembaga ekonomi yang benar-benar memberikan manfaat langsung kepada peternak anggotanya.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengiriman perdana sekitar 40 ton karkas ayam petelur afkir dari Jawa Timur menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Ayam petelur afkir merupakan ayam betina yang telah memasuki akhir masa produktif sehingga tidak lagi optimal menghasilkan telur dan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber daging. Distribusi lintas wilayah tersebut menjadi langkah untuk mempertemukan daerah sentra produksi dengan pasar yang memiliki kebutuhan terhadap komoditas tersebut. Pemerintah berharap pengiriman perdana tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan berkembang menjadi jalur distribusi yang berlangsung secara reguler. Kepastian penyerapan akan membantu peternak merencanakan siklus produksi dan pergantian ayam petelur secara lebih baik. Pada saat bersamaan, konsumen di wilayah tujuan memperoleh tambahan pasokan produk peternakan melalui jalur distribusi yang lebih terorganisasi.
Program tersebut melibatkan kolaborasi pemerintah, ID FOOD, serta sejumlah koperasi peternak dari berbagai daerah. Koperasi Peternak Perunggasan Nusantara di Blitar menjadi salah satu pihak yang terlibat bersama Koperasi KARTINI, Koperasi Putra Blitar, Koperasi Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara, dan Koperasi Berkah Telur. Kerja sama tersebut dirancang untuk menghubungkan peternak pada sisi produksi dengan jaringan pemasaran dan penyerapan di wilayah tujuan. Melalui kolaborasi tersebut, koperasi dapat melakukan konsolidasi kebutuhan maupun pasokan berdasarkan kemampuan anggotanya. Mekanisme tersebut juga memungkinkan distribusi dilakukan dalam volume yang lebih ekonomis dibandingkan apabila peternak mengirim produk secara individual. Semakin kuat jaringan antarkoperasi, semakin besar pula peluang membentuk rantai pasok yang tidak terlalu panjang dari peternak menuju konsumen.
Direktur Komersial ID FOOD Dwi Sutoro menilai pembangunan ekosistem menjadi bagian penting dalam memperkuat usaha peternakan rakyat. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya peternak, tetapi dapat menjadi penghubung antara anggota, pasar, badan usaha, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Melalui konsolidasi, kebutuhan peternak dapat dihimpun dan produk yang dihasilkan juga dapat dipasarkan dalam skala lebih besar. Model tersebut memberikan ruang untuk menciptakan hubungan bisnis yang lebih berkelanjutan dibandingkan transaksi yang hanya terjadi ketika harga sedang menguntungkan. Kepastian penyerapan menjadi salah satu aspek penting karena peternak membutuhkan pasar ketika ayam memasuki akhir masa produksi. Jika jalur pemasaran dapat dibangun secara teratur, tekanan terhadap harga pada tingkat peternak dapat dikurangi.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Heri Widyatmoko menilai akses pasar merupakan persoalan penting yang harus diperhatikan ketika ayam petelur memasuki masa afkir. Blitar merupakan salah satu sentra peternakan ayam petelur sehingga jumlah ayam yang memasuki akhir periode produksi dapat cukup besar dalam waktu tertentu. Tanpa pasar yang memadai, peningkatan pasokan ayam afkir dapat memberikan tekanan terhadap harga dan mengurangi pendapatan peternak. Pembukaan jalur distribusi menuju wilayah lain karena itu dapat menjadi alternatif untuk memperluas penyerapan. Kerja sama dengan koperasi dan badan usaha juga memungkinkan pemasaran dilakukan berdasarkan perencanaan, bukan hanya mengandalkan permintaan lokal. Pemerintah daerah berharap pola distribusi tersebut dapat terus berkembang dan memberikan kepastian yang lebih baik bagi peternak.
Ketua Koperasi Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara Rofi juga menilai posisi tawar peternak selama ini masih relatif lemah karena rantai perdagangan banyak dipengaruhi pedagang perantara. Dalam kondisi tertentu, peternak memiliki pilihan terbatas ketika harus menjual ayam sehingga harga lebih banyak ditentukan oleh pihak yang memiliki akses langsung terhadap pasar. Kehadiran koperasi diharapkan mengubah pola tersebut dengan menghimpun produksi anggota dan melakukan negosiasi secara kolektif. Penyerapan melalui jaringan ID FOOD juga dinilai memberikan alternatif pemasaran yang dapat membantu peternak memperoleh harga lebih baik dibandingkan kondisi pasar tertentu. Namun penguatan tersebut membutuhkan konsistensi agar koperasi tidak hanya aktif ketika terjadi persoalan harga. Koperasi perlu memiliki kemampuan bisnis, jaringan, tata kelola, dan akses pembiayaan yang memadai untuk menjalankan fungsi ekonominya secara berkelanjutan.
Kementan juga mendorong koperasi peternak memperluas perannya dari sekadar pemasaran hasil produksi menuju penyediaan kebutuhan usaha anggota. Melalui kelembagaan yang kuat, koperasi dapat membantu peternak memperoleh akses terhadap anak ayam umur sehari atau DOC, pakan, sarana produksi, pendampingan teknis hingga pasar. Pengelolaan secara kolektif dapat meningkatkan efisiensi karena kebutuhan dalam jumlah besar memungkinkan koperasi melakukan pembelian dengan posisi negosiasi lebih baik. Selain itu, data produksi anggota dapat digunakan untuk memperkirakan pasokan sehingga pemasaran dapat dipersiapkan sebelum produk siap dijual. Integrasi dari hulu hingga hilir juga membantu mengurangi ketidakpastian yang selama ini menjadi salah satu tantangan peternak rakyat. Pemerintah ingin koperasi menjadi bagian aktif dalam membangun ekosistem perunggasan yang lebih efisien dan berkeadilan.
Penguatan sektor hilir menjadi bagian lain yang dibutuhkan agar produk peternakan dapat menjangkau pasar lebih luas. Infrastruktur seperti rumah potong hewan unggas, fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan, pengemasan, dan transportasi berpendingin menjadi penting untuk menjaga mutu produk selama distribusi. Ayam afkir yang telah diproses menjadi karkas mempunyai peluang dipasarkan ke wilayah lebih jauh apabila rantai dinginnya terjaga dengan baik. Pengolahan juga dapat meningkatkan nilai tambah dibandingkan penjualan ayam dalam bentuk hidup. Koperasi yang memiliki akses terhadap fasilitas tersebut berpotensi memperoleh pilihan pasar lebih luas, termasuk industri pengolahan, sektor kuliner, dan konsumen antardaerah. Dengan demikian, peningkatan posisi tawar peternak tidak hanya bergantung pada negosiasi harga, tetapi juga kemampuan meningkatkan nilai produk sebelum dipasarkan.
Kementerian Pertanian berharap pengiriman perdana 40 ton karkas ayam petelur afkir dari Jawa Timur menuju Makassar menjadi awal terbentuknya pola perdagangan antardaerah yang lebih berkelanjutan. Kerja sama pemerintah, badan usaha pangan, pemerintah daerah, dan koperasi akan terus diperkuat untuk membuka jalur pemasaran baru bagi produk peternakan rakyat. Konsolidasi melalui koperasi diharapkan membuat peternak mempunyai alternatif pasar sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pedagang perantara ketika menjual hasil produksinya. Pada saat yang sama, peningkatan kapasitas koperasi perlu dilakukan agar mampu mengelola pasokan, kualitas, logistik, pembiayaan, dan kontrak perdagangan secara profesional. Jika pola tersebut berjalan konsisten, peternak dapat memperoleh kepastian penyerapan sekaligus posisi negosiasi yang semakin kuat. Penguatan koperasi pada akhirnya diharapkan menciptakan industri perunggasan yang lebih efisien, stabil, dan mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar kepada peternak rakyat.






