Jakarta, 6 September 2026 – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan komitmen lembaganya untuk mempertahankan sekaligus memperluas penyelenggaraan Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) pada 2027. Rencana tersebut disampaikan setelah penyelenggaraan LKBB-PB Tingkat Nasional 2026 berhasil menghadirkan finalis dari 30 provinsi di Indonesia. MPR melihat tingginya antusiasme peserta sebagai salah satu alasan kegiatan tersebut layak diteruskan dengan skala yang lebih luas. Tidak hanya jumlah peserta dan daerah, dukungan fasilitas serta bentuk apresiasi kepada pelajar juga akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan tahun depan. Muzani menyebut ketersediaan anggaran 2027 akan diperiksa untuk menyesuaikan pengembangan program tersebut. Meski demikian, ia memastikan MPR memiliki komitmen untuk mempertahankan kegiatan karena respons yang muncul dari berbagai daerah dinilai sangat besar. Perluasan kegiatan juga diharapkan membuat semakin banyak pelajar memperoleh kesempatan mengikuti proses pembinaan karakter dan kebangsaan melalui kompetisi tersebut.
Komitmen itu disampaikan Muzani ketika menutup sekaligus mengumumkan pemenang LKBB-PB Tingkat Nasional 2026 di halaman Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu, 5 September 2026. Sebanyak 30 provinsi mengirimkan perwakilan terbaik setelah para peserta melalui proses seleksi yang berlangsung sejak awal tahun. Muzani mengaku bangga melihat para pelajar mampu melewati rangkaian seleksi hingga akhirnya tampil di tingkat nasional. Menurutnya, keberhasilan mencapai Kompleks Parlemen merupakan pencapaian tersendiri terlepas dari hasil akhir penilaian dewan juri. Dalam sebuah kompetisi memang harus ada peserta yang berada pada peringkat pertama maupun posisi berikutnya, tetapi pengalaman dan proses yang dijalani mempunyai arti yang lebih luas. Karena itu, Muzani memandang seluruh finalis sebagai bagian dari generasi muda yang telah menunjukkan disiplin, kegigihan, dan kecintaan terhadap bangsa. Para peserta juga diharapkan membawa pengalaman tersebut kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing setelah kompetisi berakhir.
Muzani menekankan makna kemenangan dalam LKBB-PB tidak seharusnya hanya diukur melalui piala maupun peringkat. Para finalis dinilai telah menunjukkan kecintaan terhadap negara, bendera Merah Putih, Pancasila, konstitusi, dan semangat kebangsaan melalui proses panjang yang mereka jalani. Atas dasar itu, seluruh peserta disebut memiliki tanggung jawab sebagai Duta Empat Pilar MPR di provinsi masing-masing. Tugas tersebut dinilai jauh lebih besar dibandingkan sekadar membawa pulang penghargaan dari Jakarta. Pelajar diharapkan mampu memberikan contoh mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, persatuan, dan keberanian menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Nilai yang diperoleh selama kompetisi juga diharapkan diterapkan dalam kehidupan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, manfaat LKBB-PB dapat menyebar lebih luas dan tidak berhenti pada siswa yang mengikuti kompetisi secara langsung.
MPR juga memandang LKBB-PB sebagai salah satu ruang untuk melatih jiwa kepemimpinan generasi muda sejak usia sekolah. Baris-berbaris membutuhkan kemampuan mengikuti aturan, menjaga konsentrasi, bekerja dalam tim, dan menempatkan kepentingan kelompok di atas keinginan pribadi. Pengibaran bendera juga menuntut ketelitian karena setiap anggota mempunyai tanggung jawab yang saling berkaitan dengan anggota lainnya. Muzani berharap pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang membentuk karakter peserta dalam jangka panjang. Ia bahkan menyampaikan harapan agar pada 10, 20, 30, hingga 40 tahun mendatang terdapat peserta LKBB-PB yang kembali datang ke Kompleks Parlemen dalam kapasitas sebagai pemimpin bangsa. Kehadiran mereka di Senayan sebagai finalis saat ini diharapkan menjadi salah satu awal perjalanan menuju tanggung jawab yang lebih besar pada masa depan. Peserta diminta terus mengembangkan kemampuan setelah kembali ke daerah dan tidak berhenti belajar setelah kompetisi selesai.
Rencana memperbesar skala LKBB-PB pada 2027 juga didorong oleh perkembangan jumlah peserta yang cukup cepat. Pada penyelenggaraan 2026, kegiatan telah menjangkau 30 provinsi dengan peserta yang berasal tidak hanya dari ibu kota provinsi, tetapi juga dari sejumlah kabupaten. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah berharap penyelenggaraan berikutnya dapat mencakup seluruh 38 provinsi di Indonesia. Apabila target tersebut tercapai, keterwakilan pelajar dalam kompetisi akan menjadi semakin luas dan merata. MPR juga dapat memperkuat pola seleksi di daerah agar sekolah dari berbagai wilayah mempunyai kesempatan mengikuti kegiatan. Perluasan tersebut membutuhkan persiapan yang lebih matang karena jumlah peserta, kebutuhan fasilitas, waktu kompetisi, dan koordinasi antardaerah otomatis meningkat. Pengalaman penyelenggaraan tahun ini akan menjadi bahan penting dalam menyusun format yang lebih baik untuk 2027.
Durasi kompetisi menjadi salah satu aspek yang akan dievaluasi menjelang penyelenggaraan berikutnya. Siti menilai rangkaian perlombaan tingkat nasional tahun ini berjalan sangat padat karena seluruh penampilan diselesaikan dalam waktu satu hari. Kondisi tersebut membuat peserta harus mengikuti jadwal yang cukup panjang setelah sebelumnya menjalani perjalanan dari daerah masing-masing. Untuk penyelenggaraan 2027, terdapat kemungkinan durasi perlombaan diperpanjang menjadi dua hari agar jadwal tidak terlalu maraton. Penambahan waktu juga dianggap semakin diperlukan apabila seluruh 38 provinsi nantinya dapat mengirimkan perwakilan. Dengan jadwal lebih longgar, peserta diharapkan mempunyai waktu istirahat yang cukup dan dapat menunjukkan kemampuan terbaik ketika tampil. Pengaturan waktu yang lebih proporsional juga akan membantu panitia dan dewan juri melakukan seluruh tahapan kompetisi dengan lebih optimal. Evaluasi fasilitas serta bentuk dukungan lainnya akan dilakukan bersamaan dengan penyusunan rencana tersebut.
Muzani juga membuka peluang peningkatan bentuk penghargaan yang diberikan kepada peserta pada penyelenggaraan berikutnya. Namun, realisasi rencana tersebut masih harus menyesuaikan dengan anggaran MPR pada 2027. Ia menegaskan keberlanjutan program menjadi hal utama sebelum berbagai bentuk pengembangan lainnya ditentukan. Besarnya respons dari daerah dinilai menunjukkan LKBB-PB memiliki potensi untuk menjadi agenda yang terus berkembang. MPR ingin mempertahankan antusiasme tersebut dengan meningkatkan kualitas penyelenggaraan secara bertahap. Dukungan tidak hanya diarahkan kepada pemenang, tetapi juga terhadap seluruh peserta yang telah melewati seleksi panjang hingga tingkat nasional. Dengan pendekatan tersebut, pelajar diharapkan melihat kompetisi sebagai ruang pengembangan diri dan bukan semata-mata ajang mengejar hadiah. Penghargaan terbesar tetap diarahkan pada pengalaman, kedisiplinan, jaringan pertemanan, serta nilai kebangsaan yang diperoleh peserta.
Penyelenggaraan LKBB-PB juga diarahkan sebagai sarana memperkenalkan dan menginternalisasi Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika. Pertemuan peserta dari berbagai provinsi memberikan ruang bagi siswa untuk berinteraksi dengan pelajar yang mempunyai latar belakang budaya dan daerah berbeda. Siti Fauziah menilai perjumpaan tersebut dapat menghasilkan jaringan pertemanan yang bernilai bagi masa depan para peserta. Siswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga saling mengenal, bertukar pengalaman, dan memahami keberagaman Indonesia secara langsung. Interaksi tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang sulit diperoleh apabila nilai kebangsaan hanya dipelajari melalui teori. MPR berharap hubungan antarpeserta tetap terjaga setelah mereka kembali ke daerah masing-masing. Jaringan tersebut dapat berkembang menjadi modal kolaborasi ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja pada masa mendatang.
Dalam hasil akhir LKBB-PB Tingkat Nasional 2026, SMK Negeri 2 Garut dari Jawa Barat berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati SMA Negeri 1 Kendari dari Sulawesi Tenggara, sedangkan SMA Negeri 1 Pangkalan Bun dari Kalimantan Tengah memperoleh peringkat ketiga. Untuk kategori juara harapan, SMA Negeri 1 Gianyar dari Bali menempati posisi pertama. SMA Negeri 99 Jakarta dari DKI Jakarta mendapatkan juara harapan kedua dan SMA Negeri 3 Langsa dari Aceh menjadi juara harapan ketiga. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang berasal dari unsur Purna Paskibraka Indonesia, TNI, Polri, serta PPI DKI Jakarta. Setiap tim dinilai berdasarkan kemampuan yang mereka tampilkan selama kompetisi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Meski hanya beberapa sekolah yang membawa pulang gelar juara, MPR menekankan seluruh finalis telah mencapai prestasi dengan menjadi wakil provinsi masing-masing di tingkat nasional.
Rencana penyelenggaraan LKBB-PB 2027 selanjutnya akan dipersiapkan dengan mempertimbangkan evaluasi dari kompetisi tahun ini, mulai dari jumlah peserta, durasi kegiatan, fasilitas, hingga dukungan anggaran. MPR berharap jangkauan kegiatan dapat berkembang dari 30 provinsi menjadi seluruh 38 provinsi sehingga representasi pelajar semakin lengkap. Ahmad Muzani menegaskan kegiatan tersebut akan dipertahankan karena dinilai mempunyai manfaat dalam menumbuhkan kecintaan terhadap negara sekaligus melatih kepemimpinan generasi muda. Para peserta tahun ini juga diharapkan menjalankan peran sebagai Duta Empat Pilar dengan memberikan teladan positif di sekolah dan daerah masing-masing. Pengalaman tampil di Kompleks Parlemen diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan kompetisi, melainkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan kontribusi kepada masyarakat. Dengan penyelenggaraan yang semakin luas dan terstruktur, LKBB-PB diharapkan berkembang menjadi salah satu ruang pembinaan karakter generasi muda dari berbagai penjuru Indonesia. MPR selanjutnya akan menyesuaikan konsep pengembangan tersebut dengan kesiapan anggaran dan hasil evaluasi penyelenggaraan 2026.






